Beranda > Keperawatan > Role Play: Faktor Sosial yang Mempengaruhi Anamnesa

Role Play: Faktor Sosial yang Mempengaruhi Anamnesa

roleplay

Yahooo, besok ada peristiwa aneh, wkkk

Hari selasa besok, tepatnya tanggal 29 Maret 2011, adalah mata kuliah Sosiologi. Saya akan perform role play di depan kelas dengan teman saya. Ya, kali ini saya akan mempresentasikan tentang masalah sosial yang dapat mempengaruhi anamnesa (wawancara). Walaupun saya merasa kurang pede, ditambah naskah role play yang acak-acakkan, tapi semoga besok berjalan lancar, amin.

Ini dia naskahnya, :D!

ROLE PLAY

Faktor Sosial yang Mempengaruhi dalam Melaksanakan Anamnesa

A. Pemain

  • Dasa T. A sebagai Perawat
  • Endang Hermawan sebagai Pasien

B. Naskah Role Play

Di sebuah rumah sakit di Cianjur, tepatnya ruang Aromanis no. 2, ada seorang pasien laki-laki bernama Bapak Endang berumur 22 tahun. Bapak ini mengidap penyakit aids.

Maka, salah seorang perawat bernama Dasa ditugaskan untuk melakukan pengkajian terhadap Bapak Endang dengan mewawancarainya (anamnesa).

Perawat           : (Ya Allah, semoga saya dalam melakukan pengkajian pada pasien ini dapat berjalan dengan lancar). Assalamualaikum…

Pasien              : Waalaikumsalam…

Perawat           : Perkenalkan, saya perawat Dasa yang bertugas di ruang ini. Bapak, apa benar ini dengan bapak Endang?

Pasien              : Iya, saya bapak Endang.

Perawat           : Alhamdulillah, berarti saya tidak akan salah orang ya pak. Saya di sini akan mewawancarai bapak, untuk menanyakan beberapa hal. Apakah bapak siap?

Pasien              : Ya, saya siap.

Perawat           : Nama lengkap bapak, siapa?

Pasien              : Nama lengkap saya Endang Hermawan.

Perawat           : Usia bapak berapa sekarang?

Pasien              : 22 tahun.

Perawat           : Alamat rumah bapak di mana?

Pasien              : Alamat saya di selakopi.

Perawat           : Apa pekerjaan bapak yang sekarang?

Pasien              : Saya seorang supir.

Perawat           : Supir pribadi? Supir angkot? Atau supir Bus antar kota, bapak?

Pasien              : Supir bus.

Perawat           : Ooh, (sambil mengangguk). Dari jam berapa bapak bekerja?

Pasien              : Hampir seharian saya nyupir.

Perawat           : (Mengerutkan dahi) Berarti bapak jarang pulang ke rumah?

Pasien              : Saya sering tidur di hotel ataupun penginapan terdekat. Gak sempat saya pulang. Saya biasanya bawa orangbuat nemenin tidur…

Perawat           : Ooh, iya saya paham. Berapa kali bapak lakukan itu?

Pasien              : Ya ketika saya mau saja.

Perawat           : Berarti bapak sering dong “jajan” begituan? Bapak kenapa tidak ceritakan hal ini sebelumnya?

Pasien              : Saya malu, pak. Takut diketahui orang-orang.

Perawat           : Apakah bapak tidak ada niat buat menghindari hal ini? Ya, agar tidak memperburuk kesehatan bapak.

Pasien              : Susah pak. Saya terus ingin melakukannya terus.

Perawat           : Begini saja bapak, sekarang bapak selalu melakukan hal itu. Berhubungan badan dengan perempuan seperti itu. Nah, apa bapak tidak kasihan sama ibu di rumah? Ya, ketika bapak pulang, bapak berhubungan badan dengan ibu. Berarti ibu juga memiliki penyakit sama dengan bapak. Terus, apa bapak tidak tega melihat anak bapak? bapak juga mempunyai anak buat dibimbing, dibiayai pendidikannya, kehidupannya. Apa nanti ibu dan anak bapak tidak sedih jika melihat bapak seperti ini?

Pasien              : Astagfirullahhaladzim. Saya tidak berpikir ke sana, saya menyesal, pak perawat. Apa yang harus saya lakukan?

Perawat           : Untuk sekarang, bapak cobalah berhenti menjadi supir bus. Agar bapak tidak melakukan hal itu kembali. Bapak kan bisa mencari pekerjaan yang lain, dan juga bapak harus berusaha untuk menahan perbuatan bapak. Jangan lupa bapak berdoa kepada Allah SWT, agar bapak diberi kekuatan batin dalam menjalani kehidupan ini.

Pasien              : Terima kasih pak perawat. Jika saya tidak bertemu dengan bapak, mungkin saya sudah menyia-nyiakan istri dan anak saya.

Perawat           : Syukur Alhamdulillah, jika bapak sudah mengerti. Bapak harus ingat, bahwa yang mengatur semua kehidupan ini adalah Allah SWT. Bapak sering-seringlah berdoa, agar bapak diberi kesembuhan dan menjalani kehidupan ini dengan lebih baik, ya pak.

Pasien              : Iya, saya akan mencobanya dan lakukan itu setiap hari. (dengan semangat)

Perawat           : Oh iya bapak, mungkin data yang saya butuhkan sudah melebihi cukup. Kalau begitu saya izin permisi, mari bapak.

Pasien              : Saya ucapkan terima kasih sekali lagi, pak perawat.

Perawat           : Iya, sama-sama. Assalamualaikum…

Pasien              : Wasalamualaikum….

Akhirnya Bapak Endang pun menyesali segala perbuatan yang telah ia lakukan dan mencoba untuk merubah hal itu demi kebaikan dirinya dan keluarganya. Dan perawat Dasa pun mendapatkan data yang diperlukan untuk dilakukan tindakan keperawatan selanjutnya.

– SELESAI –

Bagaimana? Seru tidak? wkkk, namanya juga bermain peran, hah. Tapi semoga bisa mengambil ilmu dari itu semua.🙂

  1. Sily Rahmawati
    Maret 28, 2011 pukul 12.41

    haduh…haduh…
    trnyata pkiran dsa nympe kya yg “bgituan” iaa…
    wah..wah..wah..
    g nyngka…!!!

  2. Sily Rahmawati
    Maret 28, 2011 pukul 12.41

    haduh…haduh…
    trnyata pkiran dsa nympe kya yg “bgituan” iaa…
    wah..wah..wah..
    g nyngka…!!!

  3. Maret 28, 2011 pukul 15.36

    beuh… itu juga atas saran BAPAK!!

  4. Maret 28, 2011 pukul 15.36

    beuh… itu juga atas saran BAPAK!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: