Beranda > Coretan Hidup, Unknown Articles > [Story] Cinta Sejati Yang Menjadi Teladan (Harus)

[Story] Cinta Sejati Yang Menjadi Teladan (Harus)

Nah kawan, saya menemukan artikel yang mantap deh!! Lebih romantis dari drama korea, lebih bagaimana begitu. Terima kasih buat bro Sonatsuke Musulmano yang sudah nge-tag saya, ahhaha. Harap simak baik-baik!!

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua,  shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

Anda bisa bayangkan jika anda menjadi Salman? Mungkin akan terbersit pikiran, “Seharusnya aku tidak mengajakmu, Abu Darda!” . Tapi, ya, Salman justru melakukan hal yang diluar dugaan, ”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”. Reaksi yang cepat dan mengejutkan. Entahlah, menjadi Abu Darda’ pun sepertinya juga tidak mengenakkan. Tapi akhirnya Abu Darda’ menikah dengan gadis tersebut.

Setelah sang gadis yang menolak Salman akhirnya menikah dengan Abu Darda’, suatu saat Salman bertemu dengan gadis itu. Menghindar? Ah, itu bukan Salman, hanya saja ketika bertemu kembali, Salman mendapati bahwa keadaan gadis itu begitu menyedihkan. Wajahnya kusut dan terlihat tidak bahagia. Salman bertanya, “Ada apakah?” (redaksionalnya saya tambahi: “Bukankah seharusnya kau bahagia karena akhirnya kau menikah dengan Abu Darda’”?). Dan sang gadis itu pun menjawab jika Abu Darda’ seringkali tak memperdulikannya, Abu Darda’ seperti ‘manusia langit’ yang kerjaannya tiap hari beribadah-beribadah dan beribadah (secara ritual), sampai-sampai tidak memperdulikan istrinya.

Maka Salman pun bertandang ke rumah Abu Darda’. Kali ini lebih dari sekedar bertamu, ia ingin menginap di rumah Abu Darda’. Ketika malam, saat semua orang seharusnya tidur, maka Salman melihat jika Abu Darda’ justru pergi dari pembaringan. Salman pun bertanya, “Hendak kemana, Abu Darda’?”. Dan Abu Darda’ pun menjawab, “Aku hendak shalat,”. Saat itu juga Salman memegangi tangannya, dan berkata, “Tidurlah! Demi Allah, Jika sekali-kali kau langkahkan kaki dari tempat ini, maka kau bukan lagi saudaraku,”. Maka Abu Darda’ yang sebenarnya sebal dengan kelakuan sahabatnya itupun kemudian mengiyakan.

Keesokan paginya, ketika sarapan sudah disiapkan oleh istri Abu Darda’. Salman yang sudah duduk ditempat makan mendapati Abu Darda’ yang sepertinya tidak ingin makan. Maka Salman bertanya kepadanya, “Tidak kah kau makan, Abu Darda’?” . Maka yang ditanya pun menjawab, “Aku puasa,”. Ya, ya, ya, sekali lagi Salman memberikan ancaman, “Makanlah, Abu Darda’! Demi Allah, Jika kau tak makan pagi ini, maka kau bukan lagi saudaraku,”. Abu Darda’ pun tak bisa menolak.

Melihat perilaku Salman yang begitu aneh ketika menginap dirumahnya, Abu Darda’ pun mengadukan hal tersebut kepada Rasul. Atas alasan apa sahabatnya itu melarangnya shalat dan puasa, padahal itu sudah menjadi kebiasaannya. Maka mendengar keluhan Abu Darda’, Rasul pun tersenyum dan berkata, “Salman adalah sahabat yang paling baik nasehatnya, dengarkanlah yang ia katakan.”Dan setelah kejadian itu, keluarga Abu Darda’ menjadi keluarga paling romantis se-Madinah.

Membaca kisahnya saya benar-benar tidak habis pikir dengan Salman. Ketika dia bertemu gadis itu kembali dan mendapati gadis itu sedih karena pernikahannya, bisa saja kan dia bilang: “Kau sedih karena Abu Darda’? apa kubilang, seharusnya kau menikah denganku!” (biasanya sih kebanyakan mikirnya gini). Kisah Salman punya sisi yang cukup dalam. Ketika mengahayat cerita cinta Salman, saya ingin membandingkan kisah-kisah cinta di film Holywood, Bolywood, Indonesia, dan yang lagi digandrungi yaitu drama cinta Korea. Kisah2 cinta mereka memang sangat menyentuh, tapi tak pernah saya temukan cinta mereka dikaitkan dengan sang Pencipta. Drama-drama film cinta memang sangat dalam, tapi hanya sedalam permukaan. Tak jarang yang berbau perzinaan dan tidak mendidik. Be carefull.

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..

Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..

 (Sumber: Jalan Cinta Para Pejuang – Salim A. Fillah)

credit gambar: fatimahazaharayusof.blogspot.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: