Beranda > Coretan Hidup > [Story] Hampir Salah Pencet

[Story] Hampir Salah Pencet

Ini pertama kalinya saya menulis di blog, so selamat menikmati cerita yang sudah saya buat, hihi.😀

Oleh: Ibna Nurul Fuaddina

Kemajuan zaman telah mengubah gaya hidup seorang dengan seorang lainnya. Pakaian, makanan, hiburan dan tempat rekreasi berubah seiring waktu berjalan. Jika zamannya ibu ayah kita dulu kalau ingin memasak harus mencari kayu bakar ke hutan, mengumpulkannya dan membawa pulang ke rumah sederhana berdinding anyaman bambu. Lalu ranting dan kayu dipotong sesuai ukuran dan disusun di samping rumah. Untuk memasak, harus mempersiapkan tungku yang terbuat dari tanah liat yang dipanggang pada suhu tertentu agar kuat untuk menopang kuali selebar tubuh kita. Lalu potongan kayu disusun lalu dibakar di tungku. Kuali besi yang beratnya hampir sama dengan anak balita diletakkan secara seimbang di atas tungku. Dan mulailah proses memasak. Jangan salah, masakan yang dimasak bukanlah bergaya Italia atau Perancis melainkan singkong dari ladang yang baru dicabut tadi pagi. Setelah dibersihkan dan dipotong, digorenglah singkong tersebut untuk sarapan setiap pagi. Begitu juga dengan pakaian. Tapi sebenarnya model pakaian zaman ibu saya masih remaja sampai sekarang saya yang beranjak dewasa, tak ada perubahan yang signifikan pada model pakaian. Hanya sedikit modifikasi dan penambahan aksesori.

            Hiburan rakyat murah meriah dari dahulu hingga sekarang yang menjadi pilihan adalah pasar malam. Dimana seluruh keluarga dan remaja dari pelosok kampung berduyun meramaikan malam liburan yang panjang. Ada komidi putar, kuda pusing, tong setan, rumah hantu, lempar koin, kereta api mini untuk anak-anak, para pedagang mulai dari pakaian, makanan, minuman, sampai peralatan rumah tangga. Dan saat anak-anak sedang berkumpul dengan teman-temannya, mereka bermain dengan ragam permainan tradisional. Mulai dari karet gelang, kelereng, kuaci, tepuk gambar, gobak sodor, petak umpet, lompat ABRI dan lain-lain yang membutuhkan kerjasama dan kebersamaan. Lalu, di zaman serba teknologi sekarang, anak-anak lebih memilih untuk bermain di pusat Playstation yang membuat anak-anak menjadi serba individualis. Pengaruh internet yang sudah sangat bebas pun menjadi faktor utama. Tak hanya remaja dan orang dewasa, anak-anak dapat mengakses apapun yang mereka inginkan. Sehingga kehidupan sosialnya menjadi berkurang tanpa keceriaan dengan teman-teman sebayanya. Dan jika hari libur tiba, para keluarga memilih untuk berlibur di taman-taman permainan yang cukup besar dan merogoh kocek yang cukup dalam. Jika tidak memiliki uang yang cukup banyak, bisa dengan pergi ke mall atau plaza di kota terdekat dari desa atau daerahnya. Membawa anak-anaknya yang masih kecil untuk mengenal kehidupan kota itu seperti apa. Jika sudah masuk ke dalam plaza, banyak hal-hal “menakjubkan” yang dapat dilihat seperti tangga yang bisa berjalan atau bahasa kerennya eskalator. Ada juga balok besi yang bisa naik turun di dalam plaza yang bisa membawa manusia dan barang dan  bahasa kerennya lift.

Awalnya saya tahu lift itu dari televisi. Walaupun saya anak desa namun tidak jauh dari teknologi. Handphone ada, komputer ada, koneksi internet juga ada. Dan jalan-jalan ke supermarket atau plaza juga sering. Dan pengalaman pertama adalah naik eskalator, itu loh tangga berjalan yang terdapat di plaza atau mall. Namun naik lift? Apa rasanya ya? Soalnya saya agak takut kalu naik lift. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah saya terjebak di dalam dan tidak ada pertolongan. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk saya bergidik. Saya jadi teringat film yang ada adegan kejebak di lift,  sangat menakutkan.

Pertama kali saya naik lift sewaktu saya SD kelas 4. Saat itu lebaran dan saya diajak oleh ibu (adik ayah) saya ke salah satu mal terbesar di Medan. Setelah puas bermain di Taman Ria, saya beserta ibu saya pergi ke mal untuk jalan-jalan saja. Dan untuk menuju ke lantai paling atas adalah dengan menaiki lift. Namanya juga anak-anak, saya tidak takut tapi malah semakin senang. Mungkin sudah zamannya untuk tidak gaptek dan mengerti dengan dunia luar. Tidak seperti zaman ibu ayah kita, yang tak mengenal supermarket, mall, plaza, dan pusat perbelanjaan lainnya.

Namun di saat sudah kuliah begini, malah ada beberapa hal memalukan yang terjadi sewaktu naik lift. Kejadiannya kira-kira 3 bulan yang lalu pada tanggal 10 Maret 2011 pukul 15.30 WIB. Saat itu saya bersama dua sahabat saya ada tugas meliput ke kantor Konsulat Jepang untuk rubrik Outside di Majalah Dinamika edisi 28. pas sampai di Wisma BII, Jalan Diponegoro, kami bertiga langsung masuk dan menjalani sejumlah pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan diri dan barang-barang yang dibawa.

Kantor Konsulat Jepang terletak di lantai tiga gedung BII, maka kami harus naik lift untuk sampai ke tempat itu. Di sinilah letak kepanikan awal kami ketika masuk lift. Saya dan Lulu masuk terlebih dahulu ke lift dan tiba-tiba saja pintunya tertutup. Aduh,  gimana ini, Lu? tanya saya panik kepada Lulu, sedangkan teman saya yang satu lagi, Nopi, masih di luar lift. Kami perhatikan satu-satu tombol yang ada di dalam lift itu. Saya melihat ada tombol merah dan tertulis tulisan “STOP”. Ketika tangan saya ingin memencet tombol itu, langsung ditepis oleh Lulu. Jangan sembarangan aja, Ib. Nanti terjebak kita di sini”, ujarnya tak kalah panik. Namun, kami tak putus asa. Lulu pun melihat ada tanda dua segitiga dan di antaranya ada garis vertikal. Langsung saja Lulu menekan tombol itu dan Alhamdulillah pintu lift terbuka. Nopi yang sudah menunggu di luar tak tahan untuk tidak tertawa namun niat itu kami urungkan karena banyak orang yang masuk ke dalam lift. Sejak saat itu saya harus berhati-hati dalam menggunakan lift agar tidak menjadi pengalaman yang buruk lagi, amin.

Biodata Penulis:

Ibna Nurul Fuaddina,dilahirkan pada tanggal 10 Juli 1992 di Simalungun. Anak pertama dari empat bersaudara pasangan Nasrul dan Sahana ini sedang menduduki bangku kuliah di Institut Agama Islam Negeri Medan, Sumatra Utara. Saat ini sedang belajar di Fakultas Tarbiah jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester empat. Wanita pencinta hal-hal yang berbau Jepang ini punya hobi menulis yang cukup tinggi. Ini adalah karya pertamanya yang ingin dilombakan.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: