Beranda > Coretan Hidup > [Komentator] Disaat Sakit Hati, Haruskah Kita Terus Merenung?

[Komentator] Disaat Sakit Hati, Haruskah Kita Terus Merenung?

Putus pacar, diacuhkan teman adalah hal yang sering terjadi dikalangan pelajar dan mahasiswa. Dampaknya bermacam-macam, tergantung sifat orangnya seperti apa dan kerumitan masalahnya bagaimana. Tapi berdasarkan pengamatan dan pengalaman, biasanya hal yang paling sering terjadi adalah SAKIT HATI. :p

Terkesan lebay sepertinya jika kita terbendung suatu masalah, ujung-ujungnya malah merasa sakit hati sendiri. Wajar, itulah respon yang dimiliki oleh seorang manusia. Namun tidak semuanya begitu juga, hanya pelarian pertama ya merasakan hal demikian. Terkesan memaksa ya? Ahhaha. Saya terlalu banyak mengidap sakit hati, makanya harus dibenerin dan diarahkan ke jalan yang benar. Tidak benar jika segala permasalahan harus berakhir seperti ini, kita harus bisa menyikapi setiap masalah dengan arif dan bijaksana. Akan tetapi, bagaimana jika terlanjur begini?

Hal yang paling dan sering dilakukan seseorang ketika dirinya mendapat ketidakpuasan jawaban adalah merenung. Dia akan memikirkan, mengapa kok bisa demikian? Mengapa dia menolak saya? Mengapa dia memutuskan saya? Mengapa di menjauhi saya? Dan seribu pertanyaan di kepalanya, serasa menghantui setiap harinya. Pada keadaan tersebut, dia belum bisa menerima situasi yang telah terjadi padanya. Pastinya dia mencari pengingkaran, percuma mencari jawaban namun tidak mendapatkan jawaban, pikirnya. Biasanya kebanyakan mikir, bisa stress tuh si dia. Paling parah, depresi dan bunuh diri. Eiiits, jangan sampe terjadi demikian!! Cegah sebelum terjadi, disitulah peran kita sebagai salah satu sahabat di dekatnya.

Kita beri sugesti yang ringan-ringan saja, jangan pake bahasa yang berat apalagi perlu penyerapan otak yang dahsyat. Biasanya dengan memberikan saran yang bisa dimengertinya, dia pasti akan mendapat sedikit pencerahan. Karena saya tau, disaat saya mendapat masalah yang sedikit rumit, saya tidak bisa berpikir ke hal-hal yang sederhana, maunya berpikir yang jauh dan terkesan memperburuk masalah yang ada. Nah, setelah kita beri saran, biasanya unek-unek dia keluar tuh. Kita tampung dulu, baru kita komentar. Jangan mencoba untuk memotong pembicaraan yang telah kita jalin, biarkan dia puas meluapkan emosinya. Juga cobalah memberi saran yang tidak terkesan menggurui. Hadapkan pada spiritualitas pada dirinya. Katakana bahwa semua datang dari-Nya dan atas kehendak-Nya. Pastinya dia akan mengerti.:D

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: