Beranda > Berita Umum, Ilmu Pengetahuan > [Pengetahuan] Perilaku PASIF-AGRESIF Cenderung Seperti Anak Kecil

[Pengetahuan] Perilaku PASIF-AGRESIF Cenderung Seperti Anak Kecil

Secara gak sadar, karena peliknya suatu permasalahan sebagai konsekuensi suatu konflik, kita digiring ke dalam gejala psikologi agresif-pasif! Ketidak mampuan melawan, ketakutan akan konfrontasi akhirnya mendorong orang untuk bersikap agresif-pasif.

Akhirnya untuk  membalas  suatu “kekalahan” yang sebenarnya pertandinganya-pun tidak dilalui, perilaku agresif-pasif lebih memlih “cara” lain, yaitu menghindari konfrontasi langsung/frontal , tetapi menusuk dari belakang atau dengan tindakan-tindakan yang langsung merugikan. Jadi kelihatannya pasif melawan, tetapi agresif dan aktif melakukan keinginan membalas “kekalahan”.

Contoh: Seorang bawahan yang merasa atasannya tidak menghormati seperti apa yang diinginkan, walaupun sangat terganggu, dia merasa  tidak mampu untuk membicarakan langsung dengan atasannya. Sehingga mencari cara lain untuk membalas. Dengan cara menghilangkan berkas penting misalnya,  atau dengan cara licik lainnya (sabotase) ditempuh sebagai upaya menyamakan skor!

Secara umum, ada empat cara yang dilakukan seseorang sebagai respon perselisihan pendapat:

  1. Mundur
  2. Menerima
  3. Menyerah,  dan
  4. Melawan

Pribadi Agresif-pasif digambarkan pribadi yang selalu mundur dalam menghadapi perselisihan.  Memilih mengalah daripada menghadapi orang atau situasi secara langsung, tetapi sejatinya terus mencari cara untuk membalas.

Gejala perilaku Agresif-pasif  yang paling gampang adalah  Cemberut!  kelihatan nyata, karena tidak mampu meledakkan emosi, mampu-nya hanya dengan ekspresi wajah, tetapi menyimpan dendam yang luar biasa. Coba amati kalau kita memarahi anak kita, ekspresi pertama adalah cemberut, karena tidak mampu untuk melawan. Tetapi coba lihat apa yang dilakukan untuk membalas kita? Mogok belajar, atau menyembunyikan remote TV!

Gejala lain prilaku agresif pasif adalah menghindari tanggung jawab dengan klaim lupa, mengeluh dan merasa dendam. Contoh yang nyata adalah konfrontasi atasan dan bawahan. Seringkali bawahan berperilaku agresif pasif dalam menyingkapinya.

Kalau kita selalu memakai pendekatan agresif-pasif dalam menghadapi suatu konfrontasi, tidak  akan ada penyelesaian masalah. Justru hal itu akan lebih melebarkan jurang permusuhan dan dendam.

Sedangkan apabila kita mengetahui bahwa yang dihadapi adalah orang dengan perilaku agresif-pasif, ada trik untuk menghadapinya. Tunjukkan secara langsung bahwa kita sudah mengetahui segala perbuatan atau cara-cara dia untuk menyerang kita. Ada dua kemungkinan, perilaku agresif pasif itu menghentikan perbuatan-nya, atau-pun  kalau dia tidak menghentikan perbuatannya, kita lebih mudah menghadapi, karena perilaku agresif-pasif sudah terang-terangan “melawan” anda. Jadi tidak ngeselin lagi. Intinya dia sudah sadar bahwa “serangan”-nya sudah diketahui.

Malu-lah.. Agresif-Pasif cenderung dilakukan oleh anak kecil! Jika memang sudah bisa mengatakan kita dewasa, ya berperilakulah sebagaimana orang dewasa tersebut lakukan.😀

credit: http://perjalananhati-ndoddybumi.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: